Pandemi membawa semua orang mengenal momen Working from Home alias WFH. Enjoy kan bekerja di rumah? Ternyata tidak juga. Itu berefek pada kesehatan mental diri.

Situasi pandemi COVID-19 membuat hampir kebanyakan orang mengalami berbagai macam kesulitan ketika berhadapan dan dituntut untuk beradaptasi pada situasi baru ini atau disebut sebagai era new normal. Kesehatan mental pun jadi poin penting!

Seiring berjalannya waktu, ada orang yang mampu beradaptasi dengan kondisi pandemi. Tapi di sisi lain, ada juga orang yang merasa kewalahan dengan era new normal ini.

Perasaan tidak tenang, cemas, panik, bosan, overthinking hingga stres dialami baik mereka yang memiliki pekerjaan, usaha, dan lain sebagainya.

Ketika kita mengalami perasaan-perasaan negatif tersebut, psikolog klinis RS Murni Teguh, Maria Dwindita, M.Psi., menyarankan agar kita mengalihkan pada kegiatan yang bersifat positif dan dapat membuat tenang seperti meditasi, mendengarkan musik yang tenang, yoga, bercocok tanam dan lainnya.

Dan, tentu saja memfokuskan pikiran kita pada kegiatan yang sedang kita lakukan. Dengan kata lain: jangan sekedar melakukan begitu saja kegiatan-kegiatan di atas, tapi diri kita juga harus bisa menikmatinya dengan baik.

Step selanjutnya, ketika diri kita sudah merasa lebih tenang dan nyaman, coba untuk menulis hal-hal positif yang masih bisa dirasakan (sekecil apapun itu tetap berarti).

Fokuskan pikiran kita pada hal-hal positif tersebut dan bersyukurlah bahwa kita masih bisa merasakan – memiliki hal-hal positif tersebut.

“Perlu diingat bahwa banyak hal di dunia ini yang tidak bisa berada di bawah kontrol kita sehingga kita harus bisa beradaptasi dengan situasi tersebut,” demikian saran Maria Dwindita yang juga akrab disapa ‘Bu Indy’.

 

 

Waktu WFH (Work From Home) membuat waktu kerja jadi lebih lama

Waktu WFH menjadi lebih lama karena rumah yang tadinya menjadi tempat istirahat – justru menjadi tempat bekerja.

Tambah lagi sosialisasi alias bergaul menjadi lebih minim, aktifitas fisik berkurang, ‘screen time’ atau ‘melototin layar laptop atau PC’ menjadi lebih sering.

Hal-hal di atas dan kesehariannya lebih monoton atau membosankan menjadi pemicu stres.

Tentunya gejala stres tiap-tiap orang berbeda.

Menurut Bu Indy,  ada yang menjadi cemas berlebihan, demotivasi kerja, hingga yang paling parah menjadi depresi.

“Stres itu sebenarnya wajar tapi kalau berlebihan dan terjadi terus-menerus dalam waktu yang relatif lama, itu bisa berbahaya untuk psikis maupun fisik. Gejala-gejala tersebut kalau tidak tertangani dengan baik bisa mengakibatkan berbagai macam gangguan klinis, seperti gangguan kecemasan dan gangguan depresi.”

Selain itu, stres yang berlebihan juga bisa menghasilkan hormon kortisol yang dapat menimbulkan berbagai macam masalah kesehatan, seperti penurunan fungsi memori.

 

Cara meminimalisir atau menghilangkan stres-depresi selama WFH

Tentu saja selalu ada cara untuk menghadapi segala sesuatu, termasuk bagaimana diri kita seharusnya menghadapi situasi pandemi seperti ini.

Menurut Ibu Indy, kita bisa melakukan deretan langkah berikut ini:

 

1. Memperjelas waktu bekerja

Habit saat dulu WFO jangan dihilangkan, misalnya: bangun pagi, mandi, memakai baju rapi saat bekerja. Sehingga ketika jam bekerja selesai, bisa langsung memakai baju rumah yang menandakan bahwa waktu bekerja telah selesai.

2. Mencari hobi baru

Tentu saja hobi yang sifatnya offscreen. Misalnya, bercocok tanam, coloring (mewarnai gambar – kegiatan ini mulai menjadi tren di kalangan orang dewasa), mendengarkan musik, hingga berolahraga.

3. Decluterring rumah

Rumah yang rapi dan bersih bisa membuat pikiran menjadi lebih jernih, terutama saat rumah menjadi working space kita.

Decluterring rumah sendiri adalah momen kita meminimalisasi dekorasi rumah. Ini membuat rumah jadi kelihatan lebih minimalis dan tentu saja berbeda secara view.

4. Tingkatkan sosialisasi

Hal ini bisa dilakukan dengan cara meningkatkan quality time dengan keluarga. Atau mungkin video call dengan teman-teman.

5. Usahakan untuk bisa mendapatkan matahari pagi

Misalnya, working space di dekat jendela. Sinar matahari bisa membantu menurunkan risiko depresi.

6. Konsumsi makanan sehat

Makan makanan dengan gizi seimbang membuat tubuh menjadi sehat. Tubuh yang sehat tentunya dapat mengurangi risiko gangguan mental.

7. Tetap jalankan aktifitas harian secara positif

Dalam artian, mengikuti anjuran protokol kesehatan dari pemerintah, yaitu 3M: Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak. Dan tentunya tidak usah keluar rumah jika memang tidak terlalu urgent.

 

Yuk, klik Mengenal Lebih Jauh Pelayanan Rehabilitasi Medik

 

 

Bagaimana jika deretan cara di atas tak berhasil untuk mengurangi dan menghilangkan stres atau depresi yang dialami?

Masih banyak dari kita yang sering merasa plong saat mengutarakan masalah kita ke keluarga atau teman dekat. Jika sharing ke orang terdekat bisa membuat menjadi lebih baik, berarti itu bagus.

Namun sayangnya, terkadang langkah tersebut tidak sepenuhnya bisa melegakan isi kepala.

Memang tidak mudah untuk menceritakan masalah ke orang yang baru ditemui seperti psikolog. Demikian menurut Ibu Indy.

Tapi perlu dipahami terkadang orang terdekat cenderung melihat masalah kita secara subjektif sehingga subjektifitas dan kurangnya komitmen untuk menjaga kerahasiaan terkadang bisa memperuncing masalah.

Psikolog merupakan profesional yang mempelajari tentang kesehatan mental manusia sehingga dapat melihat suatu masalah dengan lebih objektif dan holistik. Selain itu, ada masalah-masalah tertentu yang membutuhkan intervensi klinis.

Oleh karena itu, sebaiknya konsultasi dini bersama psikolog disarankan untuk menjaga kesehatan mental kita sedini mungkin.

 

 

Wawancara dengan Maria Dwindita, M.Psi., Psikolog Klinis.

Maria Dwindita, M.Psi. membuka ruang konsultasi di RS Murni Teguh – Sudirman Jakarta

(By Appointment).

Silahkan menghubungi 0811 1589 911 – (021) 578 53 911

Leave a reply